Tentang Tetangga dan Anugerah yang Tak Tercatat di Rekening
Kita kadang lupa, bahwa tidak semua anugerah itu bisa dihitung. Ada anugerah yang tak tampak, tapi terasa. Yang tak berbentuk emas atau tanah, tapi hadir di sebelah rumah.
Anugerah itu bernama tetangga yang baik.
Yang tak ikut campur urusan dapur, tapi segera datang saat ada api. Yang tak sekadar menyapa saat lebaran, tapi juga saat hujan deras dan anak demam. Yang tak banyak bertanya, tapi tahu kapan harus mengetuk pintu.
Kita hidup berdampingan, bukan sekadar bersebelahan. Dan di zaman ketika pagar makin tinggi dan pertemuan makin singkat, tetangga yang baik adalah anugerah yang langka. Tak bisa diminta. Tak bisa dirancang.
Maka jika kita dianugerahi satu saja—yang jujur dalam sapa, tulus dalam tanya, ringan dalam bantu—itu sudah cukup untuk bersyukur. Sebab hidup bukan hanya tentang rumah yang kokoh, tapi juga tentang siapa yang berdiri di sekitarnya.
Dan mungkin, di antara sekian banyak doa yang kita panjatkan tentang keselamatan, kelapangan, dan ketenangan—Allāh ﷻ sudah lebih dulu menjawabnya lewat tetangga yang baik.
Mereka adalah anugerah yang tak tertulis di kertas, tapi mengendap hangat di hati.
Oleh:dwy sadoellah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar