Kita sering lupa bahwa tubuh manusia bukan mesin produksi yang hanya bisa bergerak kalau terus diberi bahan bakar. Ia adalah rumah yang sesekali perlu disapu dari dalam. Dikosongkan. Diheningkan. Sebab makan terlalu sering bukan hanya menyisakan kenyang, tapi juga kegaduhan di dalam perut. Dan kadang—tanpa kita sadari—di dalam pikiran.
Islam datang bukan hanya membawa surga sebagai iming-iming. Tapi juga membawa hening sebagai jalan ke sana. Puasa, bukan saja amalan yang ditunggu-tunggu oleh langit, tapi juga oleh hati dan hati nurani tubuh kita sendiri. Ia tidak menambah sesuatu, tapi justru mengurangi. Tidak memanjakan nafsu, melainkan mendidiknya. Tidak mempercepat langkah, melainkan memperdalam makna.
Para ilmuwan, tanpa menyebut lafadz Basmalah, justru sepakat dalam bahasa yang berbeda: puasa itu sehat. Tulisan dalam New England Journal of Medicine menyebutkan bahwa intermittent fasting memperbaiki tekanan darah, kadar gula darah, resistensi insulin, bahkan fungsi kognitif otak (NEJM, 2019). Sementara Harvard Medical School menyatakan bahwa puasa dapat memicu proses yang disebut autophagy—yakni proses alami tubuh untuk membersihkan sel-sel rusak dan membangun sel-sel baru yang lebih kuat.
Sesungguhnya tubuh kita, seperti halnya jiwa, juga butuh pertobatan. Ia ingin jeda. Ingin sunyi. Ingin tahu rasanya tidak diberi. Dan puasa adalah saat di mana kita belajar bersahabat dengan rasa lapar—rasa yang ironisnya justru menyembuhkan.
Maka tidak mengherankan jika Islam begitu dermawan dalam menawarkan banyak jenis puasa, dan bahkan puasa diam. Sebab puasa bukan semata menahan makan, tapi juga menahan kuasa. Kuasa untuk terus memenuhi diri, ketika yang paling kita butuhkan justru adalah membebaskannya.
Puasa adalah bentuk paling indah dari pembatasan. Ia bukan penjara. Ia justru jendela. Dari lapar yang tenang, kita mengintip makna hidup yang jarang terlihat saat kenyang.
Dan mungkin, dari situ, kita tahu bahwa menahan itu bukan berarti kehilangan. Tapi cara Tuhan membisikkan sesuatu yang tidak bisa kita dengar bila mulut dan hati kita terlalu penuh.
Oleh : dwy saoellah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar