Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni tidak datang. Kegiatan tidak ikut. Pesantren hanya tinggal foto lawas dan cerita nostalgia.
Sebaliknya ada yang mondok cuma sebentar. Bahkan mungkin belum hafal letak kamar mandi pondok sudah pulang duluan. Tapi setelah itu hidupnya terus nyambung dengan pesantren. Datang kalau ada acara. Ikut membantu kalau ada kebutuhan. Membela marwahnya kalau dihina. Mendoakan diam-diam tanpa diminta.
Lalu siapa yang lebih terasa alumninya?
Kadang kita terlalu serius pada administrasi, sampai lupa ruhnya.
Seakan alumni harus diukur dari berapa tahun mondok, berapa jilid kitab yang khatam, atau berapa lama tidur di asrama. Padahal hubungan dengan pesantren bukan hubungan kontrak kerja yang habis saat kartu santri dikembalikan.
Pesantren itu aneh. Orang yang pernah nyantri sehari pun biasanya tetap dipanggil “santri”. Tidak pensiun. Tidak dicabut gelarnya. Bahkan yang kabur malam-malam pun kalau datang haul masih disalami hangat.
Karena yang dijaga bukan sekadar data. Tapi tautan hati.
Maka jangan terlalu sibuk mempersoalkan: “Sampean alumni resmi apa bukan?”
Lha wong kadang yang resmi malah paling jauh. Yang tidak resmi justru paling rajin hadir.
Di dunia pesantren, khidmah sering lebih diingat daripada riwayat mondoknya. Sebab mondok itu masa belajar. Sedangkan pengabdian adalah bukti pelajarannya hidup.
Ada orang mondok lama tapi sibuk menghitung jasanya. Ada yang mondok sebentar tapi tenaganya selalu ada ketika pesantren butuh. Yang satu merasa memiliki pesantren. Yang satu benar-benar dimiliki pesantren.
Dan lucunya, pesantren tua biasanya lebih longgar soal pengakuan. Tidak gampang mengusir orang dari ikatan batin. Sebab mereka tahu manusia bisa salah, bisa menjauh, bisa malu pulang karena hidupnya berantakan. Tapi pintu tetap dibuka.
“Barangkali dengan begitu salah-salahnya dimaafkan.”
Kalimat itu justru paling terasa sebagai jiwa santri.
Karena akhirnya banyak orang bertahan dekat pesantren bukan karena merasa paling baik, tapi karena sadar dirinya penuh salah dan butuh tempat pulang.
By. Dwy Sadoellah Sidogiri


Tidak ada komentar:
Posting Komentar