Selasa, 12 Mei 2026

ADA PESANTREN BERDIRI TANPA BALIHO.

 Ada pesantren yang berdiri tanpa baliho raksasa. Tak ada videotron. Tak ada grand launching. Bahkan kadang pagar depannya pun belum dicat. Tapi anehnya bertahan ratusan tahun. Santrinya datang sendiri. Alumni pulang sendiri. Orang-orang sowan tanpa diundang.


Sebab yang dibangun dulu bukan gedungnya. Tapi takutnya kepada Allāh.


Orang-orang lama itu membangun dengan wirid, lapar, tirakat, air mata, dan keyakinan yang sering tidak masuk akal bagi orang modern. Mereka bukan tidak paham dunia. Mereka hanya tidak mau menjadikan dunia sebagai Tuhan kedua.


Maka jangan heran kalau ada pesantren tua yang tetap hidup meski tidak punya konten kreator sepuluh orang. Tetap ramai meski humasnya seadanya. Tetap dihormati meski pengurusnya kadang tidak pandai pencitraan.


Karena sebagian bangunan memang tidak ditopang oleh proposal. Tapi oleh doa orang shalih yang belum putus.


Hari ini kita hidup di zaman yang lucu. Banyak orang mengira lembaga besar bisa dibuat seperti membuka warung franchise. Tinggal bikin logo bagus, seragam rapi, kata-kata Arab sedikit, lalu merasa sudah setara dengan pesantren yang sanad doanya menyambung puluhan generasi.


Padahal pohon tua itu akarnya bukan di tanah biasa.


Yang sering tidak dipahami: lembaga yang lahir dari ketakwaan itu punya “ruh”. Ia bisa sakit. Bisa murka. Bisa menolak orang yang tidak tulus meski orang itu merasa paling berjasa di dalamnya.


Maka di dunia pesantren ada istilah yang tidak ditemukan di buku manajemen modern: kualat.


Lucunya, orang yang mulai kualat biasanya tidak sadar dirinya sedang kualat. Justru merasa paling benar. Paling berjasa. Paling layak didengar. Nasihat dianggap serangan. Teguran dianggap ancaman. Bahkan mulai berani melakukan hal-hal yang dulu dianggap tabu sambil berkata, “Ini bagian dari perubahan zaman.”


Zaman memang berubah. Tapi tidak semua yang berubah itu kemajuan.


Kadang yang berubah hanya rasa malunya.


Yang lebih menarik lagi: orang-orang shalih itu sering tidak perlu membalas. Tidak perlu konferensi pers. Tidak perlu podcast klarifikasi tiga jam. Cukup didiamkan saja. Nanti hidup yang mengajari.


Sebab ada manusia yang diberi hukuman bukan dengan dipukul, tapi dengan dibiarkan terus merasa hebat saat sedang jatuh-jatuhnya.


Mengerikan.


Karena merasa hebat ketika salah jauh lebih berbahaya daripada merasa hina ketika benar.


Itulah mengapa pesantren-pesantren tua sering tampak tenang. Mereka sudah terlalu lama melihat manusia datang dengan dada membusung lalu pulang tinggal nama. Sudah terlalu sering melihat orang merasa paling kuat, lalu hilang sendiri ditelan zaman.


Sementara sajadah tua tetap digelar. Kitab tetap dibaca. Adzan tetap dikumandangkan. Dan santri-santri baru tetap berdatangan.


Mungkin karena yang menjaga bukan sekadar manusia.


Maka kadang kita memang perlu hati-hati. Bukan takut kepada lembaganya. Tapi takut kepada doa orang-orang ikhlas yang pernah membangunnya.


Sebab ada bangunan yang jika dirusak, yang runtuh bukan temboknya dulu—melainkan hidup orang yang tidak tahu cara menghormatinya.


Semoga kita tidak termasuk orang yang terlalu sibuk merasa modern sampai lupa cara tunduk kepada jejak para salaf. Āmīn.

By. Dwy Sadoellah Sidogiri 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALUMNI PONDOK PESANTREN

Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni...