Kamis, 07 Mei 2026

CINTA TIDAK SELALU SAMA WAJAHNYA.



Ada orang yang kalau cinta, maunya dekat terus. Datang. Duduk lama. Bertanya. Menatap. Mendengar. Bahkan kadang hanya ingin memastikan orang yang dicintainya baik-baik saja.


Tapi ada juga yang justru menjaga jarak.

Bukan karena tidak cinta, melainkan terlalu hormat. Takut mengganggu. Takut lancang. Takut melewati batas adab.


Di situlah Gus Baha mengingatkan sesuatu yang sering dilupakan banyak orang: bahwa cinta dalam Islam tidak selalu punya ekspresi yang sama.


Para sahabat Nabi Muhammad ﷺ sendiri berbeda-beda cara mencintainya. Ada yang sangat sering datang karena rindu dan haus ilmu. Ada yang jarang mendekat karena merasa rumah Nabi bukan tempat yang boleh dimasuki seenaknya. Ada yang hafal detail wajah Nabi karena begitu menikmati memandang beliau. Tapi ada pula yang bahkan tidak berani menatap langsung karena rasa takzim yang terlalu besar.


Lucunya, hari ini orang sering sibuk mengukur cinta orang lain dengan penggaris miliknya sendiri.


Kalau tidak seperti dirinya, dianggap kurang cinta. Kalau tidak sama caranya, dianggap salah adabnya. Padahal para sahabat saja tidak seragam.


Islam ternyata tidak selalu meminta manusia menjadi sama persis. Yang dijaga adalah niat, adab, dan sanad pemahamannya. Sebab manusia memang diciptakan dengan rasa, pengalaman, dan lingkungan yang berbeda.


Gus Baha memberi contoh sederhana tentang tetangga.


Di desa, tidak menyapa tetangga bisa dianggap sombong. Orang desa terbiasa saling bertanya: “Mau ke mana?” “Baru pulang?” “Sudah makan?” Itu dianggap perhatian.


Tapi coba lakukan itu di kota besar. Bisa-bisa dianggap terlalu ingin tahu urusan orang. “Kepo.” Mengganggu privasi.


Menariknya, keduanya sama-sama ingin memuliakan. Hanya bahasanya berbeda.


Kadang kita terlalu sibuk memperdebatkan bentuk, sampai lupa membaca konteks. Ada orang yang memuliakan dengan mendekat. Ada yang memuliakan dengan menjaga jarak. Ada yang menunjukkan cinta dengan banyak bicara. Ada yang justru diam karena takut salah kata.


Bahkan dalam ibadah pun sudut pandang manusia bisa berbeda.


Gus Baha mencontohkan Ibnu Abbas yang salat cepat agar setan tidak sempat menggoda pikirannya. Orang lain mungkin memilih salat lama untuk menikmati kekhusyukan. Mana yang salah? Belum tentu ada yang salah. Karena manusia sedang melawan dirinya masing-masing dengan cara yang berbeda.


Begitu juga ketika Gus Baha datang ke sebuah acara. Para jamaah mungkin bahagia luar biasa karena bisa bertemu beliau. Tapi di sisi lain, para santri di pesantren mungkin merasa sedih karena pengajian rutin libur. Satu kejadian yang sama, melahirkan rasa yang berbeda.


Hidup memang tidak sesederhana hitam putih.


Bahkan dalam fikih, satu kata saja bisa dipahami berbeda oleh para imam besar. Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i bisa memiliki tafsir yang tidak sama terhadap sebuah lafaz. Itu menunjukkan bahwa perbedaan bukan selalu tanda kesalahan. Kadang justru tanda keluasan ilmu.


Maka masalah terbesar manusia hari ini mungkin bukan perbedaan itu sendiri, tetapi keinginan memaksa semua orang agar mencintai dengan cara yang sama.


Padahal cinta punya bahasa yang banyak.


Seorang anak mencium tangan ibunya setiap hari. Anak lain mungkin tidak pandai menunjukkan itu, tapi diam-diam bekerja keras agar ibunya tidak kekurangan. Mana yang lebih cinta? Tidak mudah menentukannya.


Ada orang yang sering menyebut nama gurunya di mana-mana. Ada yang jarang menyebut, tapi diam-diam menjaga ajarannya sepanjang hidup. Ada yang ramai bershalawat. Ada yang memilih diam sambil menangis ketika mendengar nama Nabi.


Tidak semua yang keras terlihat lebih cinta. Tidak semua yang tenang berarti kurang hormat. Sebab kadang cinta paling dalam justru tidak pandai menjelaskan dirinya sendiri.

By. Dwy Sadoellah Sidogiri 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALUMNI PONDOK PESANTREN

Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni...