Sudah berulang kali kita merayakan
‘Idul Fitri, sebuah hari bahagia yang begitu dinantikan oleh semua Umat Islam.
Hari itu kita mengekspresikan kebahagiaan sejati dan mendeklarasikan kemenangan
setelah bertarung selama satu bulan penuh melawan berbagai ujian diri. Status
kita pada hari itu ibarat para kafilah yang kembali dari medan perang dengan
membawa berita kemenangan. Tentu saja kemenangan yang kita dapatkan dalam ‘Idul
Fitri adalah kemenangan ruhani. Di hari yang fitri itu setiap Umat Islam
dikembalikan kepada karakteristik aslinya, yaitu sebagai manusia sejati.
Kesejatian dirinya terpancar dari emosi keislamannya yang semakin dekat dengan
Allah dan terwujud dalam tali kasih kepada setiap makhluk-Nya. Bagi kafilah
Ramadhan, ‘Idul Fitri merupakan titik balik (turning point) dimana
manusia diarahkan untuk menggapai kembali entitas dirinya. Hakikat ‘Idul Fitri
tidak ditandai dengan berbagai aksesoris material duniawi melainkan diwujudkan
melalui peningkatan kualitas ibadah ritual dan sosial dalam agenda hidup
seorang Muslim.
makna ‘Idul Fitri
Ada syair monumental yang patut kita
renungkan pada saat ‘Idul Fitri. Syair itu berbunyi, “Laisal 'id liman
labisal jadid/ wa lakinnal ‘id liman tha'athuhu tazid/ wa laisal 'id liman
tajmal al-libas wa al-markub/ innamal 'id liman gufirat lah al-dzunub (‘Idul
Fitri bukan milik mereka yang berpakaian baru/ namun milik mereka yang tingkat
ketundukan kepada-Nya menaik/ bukan juga milik mereka yang menghiasi dirinya
dengan busana dan kendaraan/ tetapi ia milik orang yang dosa-dosanya
terampunkan).” Syair yang terambil dari khazanah kearifan tradisional itu
menyodorkan pelajaran penting ihwal hakikat ‘Idul Fitri. Kalimat demi kalimatnya
melemparkan kritik terhadap kecenderungan budaya masyarakat Muslim yang
senantiasa menomorsatukan aspek kemeriahan fisik ketimbang internalisasi dan
pencapaian prestasi rohani dalam kesempatan ‘Idul Fitri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar