Pemimpin dan Lumpur
Tentu, ada yang mengingatkan kita pada adegan-adegan lama: Soekarno yang melangkah di antara sawah, Jokowi yang mencelupkan kaki ke lumpur, dan kini, mas rio sebagai bupati muda situbondo yang mengunjungi bekas banjir kecamatan mlandingan. Barangkali, lumpur adalah syarat kepemimpinan.
Tetapi adakah lumpur itu cukup?
Kita hidup dalam dunia di mana citra lebih sering menang atas substansi. Kamera menangkap gerak-gerik, warganet merayakannya. Sepatu kotor, lengan baju tergulung, ucapan simpatik dilemparkan—dan orang-orang pun mengangguk: perhatian. Luar biasa.
Tapi, ada ingatan yang datang tiba-tiba: tentang pemimpin yang hanya sekadar datang, lalu pergi. Lumpur mengering, air surut, tapi masalah tetap mengendap. Kita ingat banjir bukan sekadar air yang meluap, tetapi juga sungai yang dipersempit, tata kota yang dikesampingkan, beton yang rakus.
Maka, seorang pemimpin yang baik bukan hanya ia yang datang ke lokasi bencana, tetapi juga yang memastikan agar bencana itu tidak berulang. Ia yang bukan sekadar berkata “bilang saya kalau ada apa-apa,” tetapi juga yang tahu sebelum rakyatnya bicara.
Di antara lumpur dan janji, di antara gestur dan kebijakan, sejarah selalu memilih mana yang akan diingat lebih lama.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar