Dolar naik. Emas turun. Saham gonjang-ganjing. Harga minyak dunia melejit. Lalu orang-orang di televisi bicara dengan nada cemas, memakai istilah rumit, grafik melambung, indeks berjatuhan.
Tapi bagi sebagian orang, tidak ada yang berubah.
Karena mereka tidak punya dolar. Tidak punya emas. Tidak pernah punya saham, dan tak kenal apa itu indeks Nikkei. Yang mereka tahu cuma satu: beras masih bisa dibeli atau tidak. Minyak goreng hari ini naik atau stabil. Uang 50 ribu cukup buat tiga hari, atau sudah ludes sejak sore kemarin.
Maka dunia bisa heboh dengan fluktuasi global, tapi hidup sebagian besar orang tetap berjalan di tempat. Mereka tidak ikut panik saat kurs dolar merangkak, karena mereka tidak pernah menukarnya. Mereka tidak merasa rugi saat emas turun, karena emas itu pun tidak pernah ada di lemari.
Yang mengkhawatirkan mereka bukan nilai tukar, tapi harga tukang sayur. Bukan inflasi makro, tapi apakah gas elpiji hari ini masih 20 ribu atau sudah 25 ribu. Dan itulah realitas yang sering luput dari layar televisi dan perdebatan ekonomi kelas menengah atas: bahwa ekonomi rakyat kecil bukan digerakkan oleh bursa, tapi oleh warung.
Politik global bisa membakar bursa saham, tapi yang membakar kepala mereka adalah kenaikan harga cabai. Dan itulah sebabnya mereka terlihat tenang saat dunia gelisah, tapi bisa marah ketika harga mie instan naik 500 rupiah. Karena yang membuat hidup genting bukan pergerakan grafik, tapi pergerakan dapur.
Dan ya, kita bisa bicara tentang ekonomi dunia, tentang resesi global, tentang nilai tukar dan geopolitik. Tapi jangan lupa—ada jutaan orang yang hidupnya tidak berubah ketika indeks terjun bebas, tapi hancur ketika harga sembako sedikit saja naik.
Karena bagi mereka, yang tidak punya dolar atau emas, yang paling terasa bukan kabar CNN, tapi belanja di pasar yang tak lagi bisa ditawar.
Oleh : dwy sadoellah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar