Minggu, 16 Maret 2025

SAPAAN YANG DIAM



Orang memang macam-macam. Ada yang mengetuk, tapi tak masuk. Ada yang menyapa, tapi tak tinggal. Seperti angin yang menyinggung daun pintu, lalu lenyap entah ke mana. Seorang pria—atau mungkin wanita, atau mungkin bukan keduanya—datang ke sebuah ruang percakapan. Mengetik "assalamualaikum", dan ketika dijawab, tak ada lanjut. Tak ada nama yang ditinggalkan, tak ada maksud yang disampaikan. Hanya mohon maaf... dan pergi.

Saya ingat cerita seorang teman: ada seseorang yang rutin datang ke warung kopi. Duduk sebentar, pesan air putih, lalu pulang. Tak bicara dengan siapa-siapa. Tak membuka buku. Tak menyalakan ponsel. Hanya duduk. Sekadar membuktikan bahwa ia masih ada.

Mungkin memang itu tujuannya. Sekadar mengetuk. Sekadar menyapa. Untuk memastikan bahwa di balik layar ini ada kehidupan. Bahwa suara kita—yang menjawab salamnya—adalah bukti bahwa dunia belum terlalu sunyi.

Tapi juga ada yang aneh di sana: sebuah percakapan yang tak pernah dimulai. Sebuah pertemuan yang hanya berupa tanda. Sinyal. Mungkin itu cukup. Mungkin kita terlalu berharap pada setiap sapa, seolah tiap "halo" harus berujung pada cerita panjang. Padahal bisa jadi "halo" adalah kalimat utuh yang berdiri sendiri. Tak butuh kelanjutan.

Saya jadi teringat pada dialog yang tak pernah selesai. Pada surat yang hanya berisi satu kalimat pembuka. Pada pintu yang dibuka sedikit, lalu ditutup kembali, pelan-pelan, tanpa penjelasan. Barangkali itulah bentuk lain dari keberadaan: kehadiran yang tak bermaksud menetap. Kosong yang datang dan pergi.

Dan kita—sebagai penerima salam itu—mau tak mau harus berdamai. Bahwa tidak semua sapa ingin jawaban. Tidak semua ketukan mengharap pintu dibuka lebar-lebar.

Kadang orang hanya ingin tahu: masih adakah di sana seseorang?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALUMNI PONDOK PESANTREN

Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni...