Senin, 17 Maret 2025

Gus dan ustadz tentang kemuliaan




Menjadi gus atau ustadz tak selalu tentang kemuliaan. Kadang justru tentang peluang: untuk merasa lebih, dan dari sana, pelan-pelan, merendahkan orang lain.

Bukan niat yang buruk yang membawanya ke situ. Tapi panggung. Sebutan. Harapan banyak orang. Seorang gus, sejak awal, dianggap sudah lebih tahu. Lebih alim, lebih shalih dan lebih dekat kepada Tuhan. Seorang ustadz, bahkan sebelum berbicara, sudah diberi ruang dalam batin para muridnya. Kata-katanya mudah dipercaya, dan karena itu, mudah juga menghakimi.

Yang jadi soal bukan hanya yang berkata, tapi yang mendengar. Ketika seorang santri merasa pasti bahwa gus-nya lebih baik darinya, ada kepercayaan yang berlebihan. Dan ketika gus percaya itu juga, lahirlah kesombongan yang samar. Ia tumbuh dari pujian yang terus datang, dari ketundukan yang seakan wajar.

Padahal, tak ada jaminan bahwa seorang yang duduk di atas mimbar, lebih bersih dari yang duduk di lantai. Tak ada yang menjamin bahwa suara yang didengar lebih keras, lebih jernih pula datangnya dari hati.

Kita kadang silau oleh sebutan, padahal tak melihat kehidupan. Kita mudah percaya bahwa yang memimpin doa lebih baik dari yang diam, padahal mungkin ia sedang lupa mengucapkannya dalam hati.

Menjadi Gus, menjadi ustadz—bisa jadi lebih berat dari yang dikira. Karena di situlah godaan merasa lebih muncul. Dan dari merasa lebih, orang bisa dengan ringan meremehkan.

Lalu lupa: bahwa di hadapan yang Mahatinggi, tak ada posisi yang otomatis mulia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALUMNI PONDOK PESANTREN

Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni...