Minggu, 20 April 2025

Cermin bernama prasangka



Kita sering merasa sedang menilai orang lain. Padahal sebenarnya sedang mengungkapkan siapa diri kita. Prasangka, diam-diam, adalah potret diri yang dipantulkan lewat wajah orang lain.

Orang yang terbiasa bohong, anehnya, paling cepat curiga orang lain tidak jujur. Orang yang licik, mudah sekali melihat kelicikan, bahkan di wajah polos yang cuma sedang bingung. Orang yang suka menusuk dari belakang, biasanya paling sering menuduh orang lain sedang menyusun konspirasi.

Bukan karena mereka lebih peka, tapi karena mereka sedang berbicara dengan bayangan sendiri. Semacam proyeksi—dosa yang tak diakui akhirnya dicurigakan pada orang lain.

Kita semua membawa cermin ke mana-mana. Sayangnya, banyak yang tak sadar sedang melihat dirinya sendiri saat sedang menghakimi. Semakin buruk isi hati, semakin buruk pula tafsir terhadap orang lain. Sebab yang kotor bukan lensa, tapi mata batin yang menatap.

Dan ketika itu terjadi, kita tak butuh musuh. Kita sudah cukup disesatkan oleh diri sendiri.

Maka hati-hatilah pada prasangka. Ia mungkin terdengar bijak, tapi bisa jadi hanya suara luka yang tak pernah sembuh. Atau lebih buruk lagi: suara kejahatan yang sedang berusaha menyamar menjadi nasihat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALUMNI PONDOK PESANTREN

Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni...