Partai dan Pewarisan (copas dwy sadoelah)
Saya membayangkan... kalau Golkar dipimpin Gibran, dan PAN dipimpin Bobby, barangkali politik Indonesia akan terasa lebih “kekeluargaan”.
Rapat partai bisa dimulai dengan kalimat: “Ini dulu waktu saya kecil sering diajak Bapak ke sini.”
Kursi ketua umum bukan lagi hasil perebutan ide dan gagasan, tapi warisan – seperti baju safari, atau sepeda tua Bung Karno yang diwariskan dari museum ke anak cucu.
Beberapa pakar menyebut, regenerasi adalah proses panjang. Butuh kaderisasi, meritokrasi, dan kompetensi. Tapi tampaknya itu terlalu rumit. Kita lebih suka silsilah.
“Siapa ayahmu?” jadi lebih penting daripada “Apa idemu?”
Ilmuwan politik mengelus dada. Mereka yang mempelajari demokrasi sebagai sistem yang terbuka, terbukti belum memahami satu hal: di negeri ini, politik bukan soal pemilihan, tapi pengasuhan.
Seperti warung keluarga yang diwariskan ke anak. Atau tambal ban yang terus dikelola generasi kedua. Bedanya, ini bukan tambal ban. Ini partai politik.
Dan kita pura-pura tak keberatan. Kita menyebutnya regenerasi muda. Atau reformasi darah biru.
Sementara rakyat, seperti biasa, menonton. Sesekali ikut bertepuk tangan. Kadang marah. Tapi lebih sering lupa, bahwa yang mereka tonton bukan drama politik. Tapi drama keluarga.
Mungkin besok-besok, undangan kampanye berbunyi:
“Silakan hadir di haul politik trah kami.”
Dan semua tersenyum. Karena ini bukan politik. Ini warisan. Yang kebetulan masih hidup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar