Pemimpin pemimpi
Bisa jadi jabatan itu gampang diraih.
Entah dengan akal sehat, atau sekadar akal-akalan.
Entah lewat suara rakyat, suara elite, atau suara dari balik layar. Yang penting: dapat.
Dan setelah dapat, banyak yang lega seperti baru menerima hadiah undian. Dikiranya ini akhir perjalanan. Tinggal duduk manis, pasang dasi, hadiri rapat, lalu tidur nyenyak dengan embel-embel “Yang Terhormat.”
Padahal, jabatan itu bukan hadiah.
Ia bukan piala yang bisa dipajang. Bukan medali yang bisa digantung di leher cucu. Jabatan itu lebih mirip mobil impian. Mewah. Berkilau. Tapi kalau tidak tahu cara nyetirnya, atau setidaknya kapan ganti oli, maka cepat atau lambat, mogok di tengah jalan.
Lalu orang-orang yang tadi kagum, pelan-pelan menertawakan.
Karena yang sulit dari jabatan bukan mendapatkannya. Tapi mengisinya. Menghidupinya. Mengerti bahwa di dalamnya ada tanggung jawab, bukan hanya gengsi.
Sayangnya, terlalu banyak yang cuma sibuk mengejar jabatan, tapi lupa belajar bagaimana cara menjabat.
Mereka pikir, jadi pemimpin itu soal panggung. Padahal ini tentang dapur. Tentang bekerja diam-diam ketika kamera mati. Tentang keputusan-keputusan yang pahit tapi perlu.
Jabatan tanpa isi, adalah pajangan kosong. Atau lebih tragis lagi: seperti mobil impian yang akhirnya dijual kiloan karena tidak tahu cara merawatnya.
Dan itu, namanya muspro, kata orang jawa. Sia-sia. Mendapatkannya penuh rasa bangga, hasilnya: nol.
(copas dwy sadoelah).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar