Minggu, 04 Mei 2025

ANTARA UJIAN DAN HUKUMAN



Kita ini terlalu optimis dalam menafsir derita. Sedikit-sedikit: “Ini ujian.” Sakit, jatuh miskin, ditinggal orang — semuanya kita bungkus dengan kata manis itu. Ujian. Seolah semua penderitaan otomatis akan menaikkan derajat.

Padahal bisa jadi bukan ujian. Tapi peringatan. Atau hukuman.

Tapi menyebutnya peringatan terasa menyesakkan. Mengaku itu hukuman lebih menyakitkan lagi. Sebab keduanya butuh satu hal yang jarang kita miliki: kejujuran melihat diri sendiri.

Maka kita pun memilih jalan paling nyaman — menganggap diri sedang diuji. Padahal mungkin sedang diperingatkan karena terlalu jauh. Atau sedang dihukum karena terlalu sombong.

Lucunya, kita ingin naik kelas tanpa sadar selama ini bolos. Kita ingin dapat pahala dari kesabaran, tapi tak pernah benar-benar bertobat dari kesalahan.

Dan begitulah manusia. Sering kali menghibur diri dengan kata “ujian”, padahal sedang diberi kode: “Berhenti. Lihat ke belakang. Kau salah jalan.”

Copas dwy sadoellah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALUMNI PONDOK PESANTREN

Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni...