Senin, 05 Mei 2025

KALKULASI GAJI UJUNGNYA KORUPSI




Ada anggapan lama yang selalu terdengar bijak di permukaan: “Naikkan gaji, maka orang tak akan mau disuap.” Kedengarannya mulia. Solutif. Ringkas. Seolah akhlak bisa dibeli dengan slip gaji yang lebih tebal. Seolah integritas adalah persoalan saldo, bukan jiwa.

Tapi benarkah begitu?

Menurut saya, itu seperti memberi vitamin ke orang yang sebenarnya butuh operasi. Bedanya penyakit, beda pula obatnya. Gaji tinggi hanya memperbesar apa yang sudah ada dalam diri. Jika sebelumnya bersyukur, ia akan makin dermawan. Jika sebelumnya jujur, ia akan makin kokoh. Tapi jika sebelumnya maling—diberi gaji berlipat hanya akan membuatnya makin canggih. Makin pintar mengatur jadwal: antara jam kerja, jam suap, dan jam cari celah.

Menaikkan gaji bukan menjinakkan nafsu. Itu hanya memberi lebih banyak ruang bagi kerakusan untuk berlari. Dan celakanya, maling yang sudah digaji besar, ketika tetap mencuri, biasanya mencuri lebih besar lagi. Bukan karena butuh, tapi karena merasa pantas. Karena merasa jasanya terlalu tinggi untuk hidup biasa-biasa saja. "Masa segini doang?" katanya sambil menyelipkan amplop.

Ini bukan masalah uang. Ini soal mental. Mental yang sudah terbiasa menyuap nurani sebelum menyuap orang lain. Yang menilai diri sendiri terlalu penting untuk dibatasi aturan. Yang sudah lupa bedanya rezeki dengan rampasan.

Maka solusinya bukan hanya menebalkan gaji. Tapi menebalkan malu. Menebalkan iman. Dan menebalkan rasa cukup—yang sekarang makin tipis karena hidup kita diukur dari apa yang bisa dibeli, bukan dari apa yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sebab pencuri tetaplah pencuri. Naikkan gaji, dia beli koper yang lebih besar. Bukan meninggalkan kebiasaan mencuri, tapi sekadar upgrade kapasitas. Namanya tetap maling. Bedanya, sekarang berseragam rapi dan punya rekening yang legal.

Copas dwy sadoellah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALUMNI PONDOK PESANTREN

Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni...