Jumat, 02 Mei 2025

CEMBURU YANG MANIS, TAPI BISA JADI PENYAKIT



Cemburu, kata sebagian orang, adalah bumbu dalam hubungan. Tapi seperti semua bumbu, ia punya takaran. Terlalu sedikit, hambar. Terlalu banyak, ya... keracunan.

Cemburu yang sehat itu seperti gula dalam kopi. Membuat pahitnya lebih bisa diterima. Tapi kalau dituangkan satu kilo, itu bukan lagi cinta—itu undangan ke ruang IGD.

Ada yang bilang, “Aku cemburu karena aku sayang.” Tapi kadang, itu hanya alasan diplomatis dari hasrat posesif. Sayangnya, kita terlalu sering menyamakan rasa ingin memiliki dengan cinta, padahal bedanya seperti cuka dan sirup: sama-sama cair, beda rasa.

Tentu, cemburu boleh. Bahkan penting. Ia adalah alarm. Tanda bahwa hubungan ini masih hidup, masih butuh perhatian, dan belum layak dijadikan background noise seperti radio di toko kelontong.

Tapi ingat, cemburu juga bisa tumbuh seperti jamur. Lembap sedikit, ia merebak. Sedikit lupa balas chat, langsung dianggap selingkuh. Salah panggil nama, langsung interogasi lebih panjang dari BAP KPK.

Di situ letak bahayanya: ketika rasa peduli berubah jadi paranoia, dan yang dicintai mulai merasa sedang dipenjara.

Hubungan yang sehat bukan tentang seberapa kuat kau mengikat, tapi seberapa aman pasanganmu merasa meski tak diikat. Sebab yang rela tinggal, tak perlu diseret.

Jadi, kalau cemburu, secukupnya saja. Seperti gula: agar cinta tetap nikmat, bukan jadi diabetes emosional.

Copas :dwy sadoellah 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALUMNI PONDOK PESANTREN

Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni...