Jumat, 02 Mei 2025

SEPELE PADA MASALAH KECIL

 Masalah besar, biasanya, tidak lahir dari hal besar. Ia lahir dari hal kecil—yang diremehkan. Seperti benjolan di dahi yang dikira jerawat, ternyata utang negara.


Ambil contoh: satu paku di jalan. Orang anggap sepele. Tapi kalau dibiarkan, ia bisa menembus ban, menghambat lalu lintas, memicu kemacetan, dan pada akhirnya... menyulut emosi seorang pejabat yang sedang buru-buru ke bandara untuk tugas luar negeri. Lalu apa? Anggaran darurat dikeluarkan. Untuk apa? Mengkaji ulang pentingnya jalan tol anti-paku.

Begitu pula korupsi. Awalnya cuma menggandakan nota parkir. Lalu naik ke kuitansi makan siang. Lama-lama, anggaran pembangunan jalan berubah jadi biaya renovasi dapur istri ketiga. Semua dimulai dari hal kecil. Dan tentu saja, semua dibiarkan karena dianggap bukan urusan saya.

Kita sering tidak sadar, bahwa masalah besar itu hanya masalah kecil yang punya waktu dan ruang untuk tumbuh liar.

Seperti membiarkan tikus berkeliaran di dapur. Awalnya lucu, bikin video. Lama-lama semua beras habis, piring bolong, lalu wabah leptospirosis. Siapa sangka, dari satu ekor, negeri bisa lumpuh.

Tapi itulah kita. Seringkali, kita baru sadar ada masalah ketika sudah terlalu besar untuk diusir. Dan pada saat itu, biasanya kita pilih buat rapat. Bukan untuk menyelesaikan, tapi untuk menentukan siapa yang paling layak disalahkan.

Copas :dwy sadoellah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALUMNI PONDOK PESANTREN

Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni...