Kamis, 08 Mei 2025

TERIMA KASIH ISTRIKU



Anak adalah mimpi yang menjelma dari doa panjang. Ia lahir bukan dari sebuah keajaiban yang instan, tapi dari tubuh yang remuk. Dari rahim yang mengembang, dari pinggang yang dipikul nyeri berbulan-bulan. Kita menyebutnya ibu. Istri kita. Orang yang kadang kita perintah, kita cibir, atau kita abaikan.

Tapi dalam tubuhnyalah nama keluarga kita dilanjutkan. Dalam dekapnya, nama ayah mendapatkan arti. Maka sungguh aneh bila seorang laki-laki bisa bangga jadi ayah, tapi pelit mengucap terima kasih pada ibu dari anak-anaknya.

Mungkin kita lupa bahwa bayi yang kini pandai tersenyum itu dulunya menangis di tengah malam. Dan perempuan itulah yang pertama bangun. Bukan kita. Kita bahkan kadang tidak sadar suara tangis itu. Kita letakkan status ayah di dahi, tapi abai bahwa gelar ibu tidak pernah bisa dilenyapkan, bahkan oleh perceraian.

Terima kasih. Kalimat paling sederhana yang paling jarang kita ucapkan kepada istri kita. Kita anggap dia memang seharusnya begitu: melahirkan, menyusui, menggendong, mengasuh. Tanpa pamrih. Tanpa balasan.

Padahal istri tidak menagih. Tapi barangkali, dalam diamnya ia bertanya: suami macam apa yang tak tahu berterima kasih?

Dan mungkin, saat itu, kita kehilangan satu hal penting: menjadi manusia. Sebab manusia yang utuh, tahu bagaimana menghargai rasa sakit orang lain. Bahkan jika rasa sakit itu yang melahirkan kebahagiaan kita.

Bukankah begitu?

By Dwy sadoellah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALUMNI PONDOK PESANTREN

Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni...