Sabtu, 26 Juli 2025

HANYA DISURUH SHOLAT



Ada pekerjaan yang berat, tapi dijalani. Demi gaji. Demi makan. Demi status karyawan tetap. Bahkan popok kotor pun dicuci, WC disikat, tak ada yang keberatan. Buruh tak pernah menawar perintah. Sebab, katanya: “Saya butuh hidup.”


Lucunya, ketika hidup itu diberi oleh Tuhan—gratis, utuh, dan terus-menerus—kita menawar. Disuruh sholat lima waktu saja, banyak yang keberatan. Katanya sibuk. Katanya belum siap. Katanya Allah tahu isi hati.


Padahal ini bukan soal kesiapan. Tapi kejujuran. Kita patuh pada manusia demi upah, tapi enggan patuh pada Tuhan yang memberi napas, jantung, dan kesempatan menawar itu sendiri.


Ironi ini bukan hanya soal agama. Ia menyentuh akar terdalam manusia: kita rela tunduk pada kekuasaan dunia, tapi bergaya bebas di hadapan Pencipta. Kita akrab dengan perintah bos, tapi gagap di hadapan seruan adzan.


Tuhan tidak menyuruh kita membersihkan kotoran orang lain. Tidak pula mewajibkan kerja lembur dengan slip gaji. Ia hanya meminta: lima waktu. Lima detik kesadaran yang berserak dalam sehari. Lima kali mengakui bahwa ada Yang Lebih Tinggi dari segala target.


Tapi mungkin itulah masalahnya. Kita tidak sedang sibuk. Kita sedang lupa. Bahwa hidup ini, pada akhirnya, bukan tentang berapa kali kita mencuci piring. Tapi berapa kali kita menundukkan hati.


Dan Tuhan, sebaik-baiknya Majikan, bahkan tak pernah memotong gaji kita meski kita sering membolos. Terang-terangan.

Oleh : dwy sadoellah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALUMNI PONDOK PESANTREN

Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni...