Semacam Pati
Mencapai jabatan itu seperti mendaki bukit terjal. Nafas habis, keringat tumpah, modal pikiran dan uang terkuras. Lalu puncak itu tercapai—dengan pelantikan, senyum kamera, dan ucapan selamat yang membanjir. Tapi yang sering dilupakan: mendaki hanya sekali, sementara bertahan di puncak harus setiap hari.
Banyak yang baru sadar setelah duduk di kursi itu. Ternyata, jabatan bukan mahkota yang membuat kepala ringan, tapi beban yang membuatnya berat. Kemenangan tidak memberi kebebasan, justru membatasi langkah. Kemauan pribadi harus disesuaikan dengan kemampuan rakyat; hasrat berkuasa harus diimbangi kesabaran yang lebih panjang dari saat masih berjuang.
Dan di sinilah letak ironi kekuasaan: sesusah-susahnya merebut jabatan, lebih susah lagi menjabatnya. Sebab di puncak, setiap keputusan punya gema, dan setiap langkah punya jejak yang akan diikuti atau dipersoalkan. Di sana, yang memimpin bukan lagi orang yang paling kuat mendaki, tapi yang paling mampu menahan diri agar tidak tergelincir.
Oleh : dwy sadoellah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar