Memondokkan anak bukan cara elegan untuk lepas tangan. Ia justru bentuk tanggung jawab yang diperpanjang, bukan dipindahkan.
Pondok adalah ruang belajar. Rumah tetap ruang pulang. Dan anak akan bingung bila dua ruang itu saling menafikan. Di pondok ia diajari adab, disiplin, dan ibadah; lalu di rumah ia menemukan kebisingan yang berlawanan: shalat yang diremehkan, lisan yang kasar, konflik yang dibiarkan telanjang di depan anak.
Orangtua sering lupa: anak tidak hanya membawa koper saat pulang, tapi juga nilai. Nilai itu rapuh bila rumah tak menyiapkan suasana yang sepadan. Minimal, suasana beribadah. Lebih dari itu, sikap keluarga—cara bicara, cara marah, cara berbeda pendapat—harus ikut menjadi pelajaran hidup.
Bukan lamanya anak di pondok yang menjamin tumbuhnya akhlak, tapi kesinambungan antara pondok dan rumah. Sebab percuma anak dijaga orang lain dengan penuh kesungguhan, jika kemudian dirusak pelan-pelan oleh keadaan di rumahnya sendiri.
Oleh : dwy sa'doellah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar