“Jangan jadi politikus sebelum mampu dan cukup dalam urusan keuangan keluarga, dan jangan jadikan panggung politik itu untuk mengais rezeki.”
— Ahmad Syafii Maarif
Kalimat ini pendek, tapi tidak ramah bagi yang datang ke politik dengan perut kosong dan ambisi besar. Ia seperti pintu yang sengaja dibuat sempit: hanya bisa dilewati oleh mereka yang sudah selesai dengan urusan dapurnya sendiri.
Sebab orang yang masih bingung membayar listrik rumahnya akan sulit bicara jernih tentang listrik negara. Yang masih kelabakan menutup kebutuhan anak-istrinya, mudah tergoda menjadikan kekuasaan sebagai ATM berjalan. Bukan karena ia jahat—tapi karena lapar sering lebih fasih daripada idealisme.
Politik seharusnya ruang pengabdian. Tapi bagi yang datang sambil berharap digaji oleh panggung, ia berubah jadi pasar. Janji jadi dagangan. Moral jadi alat tawar. Dan rakyat, seperti biasa, hanya penonton yang membeli tiket dengan harapan.
Buya Syafii tidak sedang menghalangi orang miskin masuk politik. Ia hanya mengingatkan: jangan masuk ke ruang yang penuh godaan sebelum urusan paling dasar dalam hidupmu selesai. Karena kekuasaan tidak menyembuhkan kekurangan—ia justru mempercepat kebocoran watak.
Kalau politik dijadikan jalan mencari rezeki, jangan kaget bila yang diperas pertama kali bukan negara, tapi nurani sendiri.
#mas dwy sadoellah sidogiri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar