Jumat, 02 Januari 2026

DIAM ITU MEMIHAK.




Ada orang yang bangga berkata, “Saya netral.” Seolah itu puncak kedewasaan berpikir. Padahal, dalam banyak perkara, netral bukanlah sikap, melainkan cara aman untuk menghindari keberanian.


Sebab antara baik dan buruk, tidak ada ruang duduk yang betul-betul tenang. Ketika kebenaran dan kesalahan diperlakukan sama, yang lahir bukan keadilan, tapi pembiaran. Dan pembiaran adalah keberpihakan paling licin—ia tidak berteriak, tapi hasilnya sama: yang salah dibiarkan berjalan.


Plin-plan sering disamarkan sebagai kebijaksanaan. Diam dikemas sebagai kehati-hatian. Padahal yang ditunda bukan keputusan, melainkan keberanian mengaku: ya, ini benar dan itu keliru. Risiko terlalu mahal bagi orang yang lebih mencintai kenyamanan daripada kebenaran.


Orang yang berani memihak pada yang benar jarang terlihat rapi. Ia bisa disalahpahami, dianggap mengganggu harmoni, bahkan dicap tidak tahu diri. Tapi justru di situlah nilainya. Kebenaran memang tidak selalu sopan. Ia tidak dibuat untuk menyenangkan semua orang.

Netral hanya masuk akal dalam urusan selera. Mau kopi atau teh, silakan. Tapi dalam urusan nilai, diam sering kali berarti ikut menyuburkan keburukan. Bukan karena membela, tapi karena memilih tidak melihat mana yang benar.


Dan di titik itulah kita perlu jujur pada diri sendiri: bukan sedang adil, tapi sedang takut. Bukan menjaga keseimbangan, melainkan menyelamatkan posisi.

Oleh : dwy sadoellah sidogiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALUMNI PONDOK PESANTREN

Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni...