Selasa, 03 Februari 2026

PEMILU PROPOSAL PROYEK


 Kita Bukan Keledai

Menjelang pemilu, kita sering berubah menjadi bangsa yang sangat filosofis. Kriteria pemimpin kita tulis panjang-panjang: harus amanah, cerdas, berani, tidak korup, tidak haus kuasa, dekat dengan rakyat tapi tidak pencitraan, religius tapi tidak menjual agama, tegas tapi tidak kasar, santun tapi tidak lembek.


Daftarnya bisa kalah panjang dari proposal proyek.


Di warung kopi, di grup WhatsApp, di mimbar-mimbar kecil, kita bicara seolah sedang menyusun standar pemimpin sempurna untuk memegang kendali negeri. Kita menjadi analis politik dadakan. Kita bedah rekam jejak, kita nilai visi-misi, kita ukur integritas dengan mikrometer moral.


Lalu waktu berjalan.


Spanduk makin banyak. Jingle makin sering terdengar. Video kampanye makin menyentuh. Air mata diteteskan di depan kamera. Blusukan jadi konten. Slogan jadi mantra.


Dan pelan-pelan idealisme yang tadinya tegak seperti menara… mulai goyah. Emosi kita disentuh.

Identitas kita dipanggil. Ketakutan kita dimainkan. Harapan kita digembungkan.


Di titik itu, kita sering berubah—maaf—seperti keledai yang lupa arah kandang. Yang penting ada yang menyuguhkan rumput hijau di depan mata, kita ikut saja. Lupa bahwa dulu kita bersumpah hanya akan memilih ladang yang benar-benar subur.


Kita yang dulu bicara soal integritas, tiba-tiba cukup dengan “yang penting orang kita.” Kita yang dulu bicara soal kompetensi, mendadak merasa “yang penting bukan dia.”

Kita yang dulu keras pada standar moral, tiba-tiba lunak karena sudah terlanjur suka.


Emosi memang punya daya hipnotis yang luar biasa. Ia membuat kita merasa benar, padahal mungkin hanya merasa nyaman.


Ia membuat kita merasa membela kebenaran, padahal mungkin hanya membela pilihan yang sudah terlanjur kita banggakan.


Yang paling ironis: setiap lima tahun kita kecewa pada pemimpin yang sama modelnya. Kita marah. Kita mengkritik. Kita mengeluh. Namun menjelang pemilu berikutnya, kita mengulang pola yang sama.


Seolah-olah kita bukan sedang memilih masa depan, tapi sedang memilih hiburan lima tahunan.

Padahal memilih pemimpin bukan soal siapa paling membuat kita terharu. Bukan siapa paling pintar berdebat. Bukan siapa paling sering muncul di timeline.


Memilih pemimpin adalah soal siapa yang paling kecil kemungkinan menyalahgunakan kuasa. Siapa yang paling siap dikritik tanpa marah. Siapa yang paling tahan tidak mencuri.


Tapi itu tidak selalu dramatis. Dan kita, jujur saja, sering lebih suka drama.


Barangkali masalahnya bukan pada calon saja. Barangkali ada yang perlu dibereskan di dalam diri kita: apakah kita benar-benar ingin pemimpin yang baik, atau hanya pemimpin yang sesuai selera?


Idealismenya kita punya. Tapi disiplin menjaga idealisme itu yang sering kita lepaskan. Mungkin sebelum bertanya kenapa pemimpin kita begitu-begitu saja, kita perlu bertanya: apakah cara kita memilih juga begitu-begitu saja?


Karena demokrasi, pada akhirnya, bukan cuma tentang siapa yang menang. Tapi tentang seberapa dewasa kita saat menentukan pilihan.

By : dwy sadoellah sidogiri 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALUMNI PONDOK PESANTREN

Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni...