Ada satu kebiasaan manusia yang hampir tak pernah berubah: kita selalu terpesona pada apa yang belum kita miliki.
Rumah orang lain tampak lebih lapang. Mobil orang lain tampak lebih gagah. Jabatan orang lain tampak lebih terhormat. Hidup orang lain tampak lebih tenang. Semuanya terlihat luar biasa dari kejauhan. Menggiurkan. Seolah-olah, kalau itu sudah ada di tangan kita, hidup akan selesai dari rasa kurang.
Lalu kita mendapatkannya. Rumah itu akhirnya terbeli. Mobil itu akhirnya terparkir di garasi. Jabatan itu akhirnya tersemat di nama. Beberapa hari terasa istimewa. Beberapa bulan masih membanggakan. Tapi pelan-pelan rasa itu turun. Biasa saja. Yang dulu terlihat puncak, berubah jadi lantai.
Dan anehnya, mata kita mulai melirik lagi.
Yang lebih besar.
Yang lebih baru.
Yang lebih tinggi.
Begitu terus. Seperti berjalan di atas treadmill keinginan: bergerak terus, tapi tidak pernah benar-benar sampai.
Padahal yang berubah bukan bendanya. Yang berubah adalah rasa kita.
Keinginan memang punya sifat seperti api. Kalau diberi kayu, ia membesar. Tapi tidak pernah berkata cukup. Ia hanya ingin tambah.
Hingga suatu hari napas berhenti. Dan semua yang dulu begitu menggiurkan itu tertinggal.
Rumah tetap berdiri, tapi bukan lagi milik kita. Mobil tetap bisa berjalan, tapi bukan lagi kita yang mengendarai. Nama mungkin masih disebut, tapi kita sudah tak bisa menikmati sebutannya. Baru di situ terasa jelas: yang kita kejar seumur hidup ternyata hanya singgah sebentar di tangan.
Mungkin yang perlu kita latih bukan berhenti memiliki, tapi berhenti merasa bahwa memiliki akan menyelesaikan segalanya. Karena yang membuat cukup bukan jumlah yang kita kumpulkan, tapi rasa syukur yang kita pelihara.
Kalau tidak, hidup hanya akan menjadi daftar keinginan yang tak pernah selesai—hingga daftar itu ditutup oleh kematian.
By.dwy sadoellah sidogiri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar