🌙 Ramadhan ya
ng Dipersempit
Ada yang berubah dari cara kita menyambut Ramadhan.
Dulu, dawuh Habib Umar bin Hafidz, ada getaran yang berbeda bahkan di dada anak-anak. Suasana kampung terasa lain. Udara seperti membawa pesan. Orang-orang menunggu bukan karena lapar akan buka, tapi karena rindu akan ibadah. Ramadhan datang seperti tamu agung yang membuat hati berdiri menyambut.
Sekarang, yang pertama sibuk disiapkan sering kali adalah sambosa, kue, minuman, dan daftar menu berbuka. Seolah-olah Ramadhan adalah festival kuliner tahunan. Perut lebih dulu bersiap, hati belakangan—kalau sempat.
Pertanyaannya sederhana: Ramadhan ini untuk makan, atau untuk mendekat kepada Yang Maha Benar?
Beliau mengatakan manusia hari ini telah ditipu dalam perasaan dan seleranya. Yang remeh dibuat penting. Yang agung dipersempit. Kita digiring untuk merasa bahwa keseruan Ramadhan ada pada diskon, konten, dan dekorasi. Bukan pada qiyam, tilawah, dan tangis di sepertiga malam.
Tapi yang lebih pedih dari tipu daya adalah kerelaan untuk ditipu.
Karena setan tidak bisa memaksa. Ia hanya membujuk. Dan celaan utama bukan pada penipu, tapi pada hati yang menerima bujukannya tanpa perlawanan.
Beliau memberi contoh sahabat-sahabat dahulu. Malam Ramadhan mereka isi dengan shalat sejak awal hingga mendekati sahur. Berdiri lama bukan beban, tapi kenikmatan. Air mata bukan tekanan, tapi kelegaan.
Bandingkan dengan keluhan kita hari ini. Imam membaca agak panjang, kita gelisah. Rakaat terasa lama, kita menghela napas. Padahal berjam-jam menonton serial tidak terasa panjang. Berjam-jam menggulir layar ponsel tidak kita anggap berat. Yang lama bersama dunia kita sebut hiburan. Yang lama bersama Allah kita sebut beban.
Lalu beliau bertanya dengan nada yang menggugah: “Hati seperti apa yang engkau miliki? Iman seperti apa yang engkau punya?”
Pertanyaan itu bukan untuk mempermalukan, tapi untuk membangunkan.
Mungkin masalahnya bukan pada panjangnya shalat. Tapi pada pendeknya rindu. Bukan pada lamanya imam. Tapi pada tipisnya rasa butuh kepada Allah.
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar. Ia adalah momentum memulihkan arah. Jika yang paling kita khawatirkan adalah menu berbuka, maka jangan heran bila yang paling kita rasakan hanyalah kenyang.
Tapi jika yang kita siapkan adalah hati—membersihkannya, menatanya, mengosongkannya dari yang sia-sia—maka Ramadhan akan terasa seperti dulu: istimewa, hening, dan menggetarkan.
Ramadhan tidak pernah berubah.
Yang berubah adalah selera hati kita.
Dan mungkin, sebelum menyiapkan sambosa berikutnya, kita perlu bertanya pelan-pelan pada diri sendiri: Apakah kita sedang menyambut bulan suci, atau sekadar musim makan tahunan?
By.dwy sadoellah sidogiri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar