Sabtu, 14 Februari 2026

Membersihkan diri apa tersinggung



Ada satu jenis bau yang paling sulit dideteksi: bau diri sendiri.


Orang yang badannya bau sering tidak sadar bahwa ia bau. Bukan karena tidak punya hidung, tapi karena terlalu terbiasa. Setiap hari ia menghirup aroma yang sama. Tubuhnya beradaptasi. Inderanya berdamai. Yang bagi orang lain menyengat, baginya biasa saja.

Begitulah manusia.


Kita jarang sadar pada kekurangan yang kita ulang setiap hari. Nada bicara yang terlalu tinggi. Candaan yang merendahkan. Kebiasaan merasa paling benar. Cara memandang orang lain dari atas. Semua itu, jika dilakukan terus-menerus, menjadi “bau” yang tidak lagi kita rasakan.


Orang lain yang mencium. Orang lain yang pelan-pelan menjauh.


Ironisnya, ketika ada yang mencoba mengingatkan, sering kali yang muncul justru tersinggung. Seolah-olah yang salah adalah penyampainya, bukan baunya. Kita lebih sibuk menjaga perasaan daripada menjaga diri.


Padahal mengingatkan itu bentuk perhatian.


Menyampaikan bahwa ada yang perlu dibenahi bukan berarti merendahkan. Justru itu tanda masih peduli. Sebab yang paling berbahaya bukan orang yang bau, tapi orang yang sudah tak punya siapa pun yang berani mengatakan ia bau.


Tentu, cara menyampaikannya juga penting. Bukan diumbar di depan umum. Bukan disindir lewat keramaian. Bukan dijadikan bahan tertawaan. Mengingatkan adalah seni menjaga martabat orang lain sambil menyelamatkannya dari keterasingan yang tak ia pahami.


Namun ada satu syarat yang lebih berat: kesiapan menerima.


Kita sering merasa orang menjauh karena iri. Karena tidak sepakat. Karena tidak satu visi. Jarang terpikir bahwa mungkin ada sesuatu dalam diri kita yang memang perlu dibersihkan. Sesuatu yang selama ini kita hirup sendiri hingga tak lagi terasa.


Dalam hidup, kita semua berpotensi berbau.


Dan kita semua butuh hidung. Bersyukurlah jika masih ada yang berani menegur. Itu artinya kita belum sepenuhnya ditinggalkan. Tinggal pilihan ada pada kita: tersinggung, atau memperbaiki diri.


Sebab pada akhirnya, yang paling menyakitkan bukan bau itu sendiri—

melainkan saat orang-orang memilih diam, lalu menjauh tanpa pernah menjelaskan.

By. Dwy sadoellah sidogiri 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALUMNI PONDOK PESANTREN

Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni...