Sabtu, 14 Februari 2026

Tama bernama ramadhan

 🌙 Tamu Bernama Ramadhan



Bayangkan kita akan kedatangan tamu yang sangat mulia. Bukan tamu biasa. Bukan sekadar kerabat jauh. Tapi tamu yang kehadirannya membuat rumah terasa terhormat. Apa yang pertama kita lakukan?


Kita bersihkan rumah. Debu-debu yang biasanya kita toleransi, tiba-tiba terasa mengganggu. Cat yang kusam terasa perlu diperbarui. Ruangan ditata ulang. Mungkin kita siapkan dupa gahru agar harum menyambutnya. Hidangan terbaik disajikan, bukan karena tamu itu butuh, tapi karena kita ingin menunjukkan penghormatan.


Lalu Habib Taufiq bin Abd. Qodir Assegaf, mengingatkan: Ramadhan adalah tamu seperti itu. Bedanya, yang perlu dibersihkan bukan hanya lantai dan dinding. Tapi hati. Pikiran. Niat. Kebiasaan-kebiasaan yang terlalu duniawi. Penyakit-penyakit kecil yang kita anggap remeh—hasad yang tipis, riya’ yang samar, lalai yang dianggap wajar.


Rumah fisik mudah kita rapikan.

Rumah batin sering kita biarkan berantakan.


Beliau memberi contoh tentang orang-orang salaf yang menyiapkan “celengan” mingguan dan tahunan. Dari hasil kerja mereka, ada bagian yang dimasukkan ke celengan mingguan. Celengan itu dibuka setiap Kamis sore. Isinya dipakai secukupnya untuk kebutuhan hari Jumat—agar hari itu mereka tidak sibuk lagi dengan urusan dunia. Supaya Jumat benar-benar menjadi ruang kosong untuk ibadah.


Betapa seriusnya mereka mempersiapkan satu hari.

Lalu bagaimana dengan satu bulan?


Kita sering berkata ingin Ramadhan yang lebih baik dari tahun lalu. Tapi kita masuk ke dalamnya tanpa persiapan. Tanpa pembersihan. Tanpa strategi ruhani. Seakan-akan bulan mulia itu yang harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan kita—bukan kita yang menyesuaikan diri dengannya.


Padahal, tamu agung tidak lama singgah. Ia datang, lalu pergi.


Dan yang menyedihkan, justru orang-orang salaf menangis ketika hari raya tiba. Bukan karena lebaran tidak menyenangkan. Tapi karena mereka merasa kehilangan. Ramadhan bagi mereka bukan beban, bukan rutinitas, bukan sekadar jadwal imsak dan buka. Ia adalah musim panen. Musim keberuntungan. Musim pengampunan.


Kita sering bergembira karena selesai berpuasa. Mereka menangis karena kehilangan kesempatan. Di situ letak perbedaannya.


Targetnya memang bukan sekadar “ramai ibadah di bulan Ramadhan.” Bukan pula sekadar khatam al-Qur’an atau tarawih penuh. Target sebenarnya adalah: siapa kita setelah Ramadhan pergi?


Apakah kita kembali seperti semula?

Ataukah ada sesuatu yang tertinggal dalam diri—ketenangan, kedisiplinan, kesadaran?


Ramadhan bukan hanya bulan ibadah. Ia adalah cermin. Ia memperlihatkan seberapa serius kita memuliakan yang mulia.


Kalau untuk tamu dunia saja kita rela mengecat ulang rumah, mengapa untuk tamu langit kita masih menunda membersihkan hati?


Barangkali pertanyaannya bukan: “Sudah siapkah Ramadhan datang?”

Tapi: “Sudah pantaskah hati ini menyambutnya?”

Dan mungkin, yang lebih penting lagi: ketika nanti ia pergi… apakah kita akan merasa lega—

atau justru kehilangan?

By. Dwy sadoellah sidogiri 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALUMNI PONDOK PESANTREN

Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni...