Datang kepada yang Diserang
Yang pertama kali saya pelajari dari sebuah pertikaian adalah: logika sering datang terlambat. Ia seperti wartawan yang baru tiba ketika batu terakhir sudah dilemparkan, lalu bertanya dengan sopan, “Siapa yang mulai duluan?”
A memukul lebih dulu. Fakta itu sederhana. Seperti tanggal merah di kalender: jelas, tidak perlu tafsir. Tapi C—yang datang membawa kata “damai” di sakunya—tidak menuju ke rumah A. Ia justru berjalan ke arah B, yang pipinya masih menyimpan bekas tamparan.
Di situlah pikiran awam mulai bekerja. Pikiran yang polos. Pikiran yang masih percaya bahwa sebab harus didatangi lebih dulu daripada akibat.
C duduk di samping B, menepuk bahunya, dan berkata dengan suara yang penuh kebijaksanaan yang biasanya hanya muncul dalam seminar: “Sudahlah. Jangan dibalas. Ini ramadhan. Sabar...”
Kalimat yang indah. Kalimat yang selalu terdengar mulia—terutama bagi mereka yang tidak ditampar.
Ada tradisi panjang dalam peradaban kita: menasihati yang terluka agar bersabar, dan menyebut itu sebagai kemenangan moral. Sebuah teknik kuno untuk menjaga ketertiban tanpa harus repot menghadapi sumber kekacauan.
Sebab menghadapi A membutuhkan keberanian.
Menghadapi B hanya membutuhkan retorika.
A biasanya datang dengan volume suara, dengan massa, dengan jabatan, atau setidaknya dengan kemungkinan membuat suasana menjadi tidak nyaman. B datang hanya dengan luka. Dan luka tidak pernah mengancam siapa pun—kecuali hati nurani, jika itu masih tersisa.
Maka C memilih jalur yang paling aman: menenangkan yang bisa ditenangkan.
Di dalam buku-buku pelajaran moral, ini disebut meredam konflik.
Dalam praktik sehari-hari, ini sering berarti memastikan bahwa yang lemah tetap tahu tempatnya.
Kita mengenal kalimat-kalimat yang diwariskan turun-temurun: “Yang kuat mengalah.” “Yang sabar pasti menang.” “Kita cari jalan tengah.”
Kalimat-kalimat itu terdengar seperti doa. Padahal kadang hanya strategi agar meja tetap rapi dan kursi-kursi kekuasaan tidak bergeser.
Sementara A belajar sesuatu yang penting dari semua ini: memukul lebih dulu bukan masalah besar. Paling-paling nanti ada orang yang datang kepada korban, membawa nasihat tentang kedamaian.
Dan B belajar sesuatu yang lebih penting lagi: dalam pertikaian, luka bukan alasan untuk didengar. Luka adalah alasan untuk diminta mengerti.
Saya membayangkan suatu hari terjadi kebalikan: C berjalan menuju A, menatap matanya, dan berkata, “Kau yang mulai. Selesaikan.”
Tapi itu membutuhkan risiko. Dan kita hidup di zaman ketika risiko lebih menakutkan daripada ketidakadilan.
Maka tradisi itu terus berlangsung. Yang diserang diminta tenang. Yang menyerang diminta… maklum.
Dan kita menyebutnya kebijaksanaan.
Seolah-olah kedamaian memang selalu harus dimulai dari mereka yang tidak memulainya.
By. Dwy sadoellah sidogiri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar