Tidak semua yang pernah nyantri, benar-benar pulang sebagai santri.
Ada yang selesai mondok, lalu selesai pula hubungannya dengan pesantren. Bukan hanya fisiknya yang pulang, tapi juga ingatannya. Bahkan kadang, rasa keterikatannya ikut luruh. Seolah-olah pesantren hanya fase, bukan akar.
Pertanyaannya: apakah ada yang menyesal menjadi santri?
Ada.
Bukan karena ilmunya tidak bermanfaat. Bukan karena waktunya terbuang. Tapi karena mereka merasa pernah berada di jalan yang bukan pilihannya sendiri. Dulu masuk pesantren karena dorongan orang tua, karena keadaan, atau karena tidak punya opsi lain. Maka ketika keluar, yang ingin mereka lakukan adalah menjauh—sejauh mungkin.
Seperti seseorang yang pernah dipaksa tinggal di suatu tempat, lalu ketika bebas, ia tidak ingin menoleh lagi.
Di situlah muncul fenomena yang diam-diam banyak terjadi: santri yang “putus” dengan pesantrennya.
Undangan haul tidak datang. Acara alumni tidak dihadiri.
Nama pesantren tidak lagi disebut dengan hangat. Bahkan, ada yang benar-benar menutup bab itu dalam hidupnya.
Menariknya, sebagian dari mereka justru “berhasil” di luar. Ada yang punya usaha, ada yang punya pesantren sendiri, ada yang sibuk dengan dunianya masing-masing. Mereka tumbuh—bahkan mungkin lebih rindang dari sebelumnya.
Dan di titik itu, muncul satu bisikan halus: Untuk apa kembali ke titik awal, kalau sekarang sudah bisa berdiri sendiri?
Ini bukan soal benar atau salah. Ini soal rasa.
Sebab bagi sebagian orang, pesantren adalah rumah. Tapi bagi sebagian lain, ia adalah tempat singgah yang ingin segera ditinggalkan.
Namun, ada satu hal yang sering luput dipikirkan. Tidak semua yang kita tinggalkan, benar-benar selesai dalam diri kita.
Pesantren bukan hanya tempat belajar kitab. Ia adalah tempat kita pertama kali belajar menahan diri, belajar sabar, belajar hidup bersama orang lain, belajar kalah, bahkan belajar diam. Banyak hal yang tidak terasa saat itu, tapi diam-diam membentuk cara kita hidup hari ini.
Maka meskipun seseorang merasa sudah jauh, sebenarnya ia tetap membawa jejak itu ke mana pun pergi.
Bahasa yang ia pakai. Cara ia menghormati orang lain. Cara ia melihat hidup. Semuanya, sedikit banyak, masih menyimpan sisa-sisa pesantren. Hanya saja, tidak semua orang ingin mengakuinya.
Mungkin karena merasa sudah tidak perlu. Mungkin karena merasa sudah melampaui. Atau mungkin karena memang ingin memulai hidup yang benar-benar baru.
Tapi hidup punya cara yang aneh untuk mengingatkan. Bahwa akar tidak selalu terlihat, tapi selalu ada. Dan sering kali, yang paling jauh pergi justru yang paling dalam pernah ditanam.
Maka kembali atau tidak kembali, itu pilihan. Menghadiri atau tidak menghadiri, itu keputusan.
Tapi satu hal yang sulit dihapus:
bahwa pernah menjadi santri, bukan sekadar fase—ia adalah jejak. Dan jejak, tidak pernah benar-benar hilang.
By. Dwy sadoellah sidogiri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar