Ketika Kejahatan Dihormati
Ada orang yang memilih aman. Bukan dengan menjadi baik—tapi dengan menjadi netral di hadapan yang jahat.
Ia dekat dengan penjahat, tertawa bersama, menjaga hubungan, katanya: “biar saya tidak diganggu.”
Logikanya sederhana, dan terasa masuk akal.
Siapa yang ingin jadi korban? Tapi diam-diam, ada yang lebih berbahaya dari sekadar kejahatan itu sendiri: pembiaran.
Ketika yang jahat tidak pernah disalahkan, ia tidak merasa bersalah. Ketika yang jahat tetap disapa hangat,
ia merasa diterima. Ketika yang jahat terus diberi ruang, ia mengira itu haknya.
Dan dari situlah kejahatan berubah wajah—dari sesuatu yang memalukan
menjadi sesuatu yang punya posisi.
Dihormati. Ditakuti. Bahkan… diikuti. Sementara orang-orang baik berdiri di pinggir, menyaksikan, berbisik dalam hati: “yang penting saya selamat.”
Padahal keselamatan seperti itu rapuh. Ia tidak lahir dari kebenaran,.tapi dari kompromi. Hari ini mungkin tidak disentuh, tapi besok—siapa yang menjamin?
Lebih getir lagi ketika ada orang lain yang disakiti, lalu kita tahu itu salah,
tapi memilih diam. Bukan karena tidak paham, tapi karena takut.
Dan di titik itu, kita tidak lagi sekadar penonton. Kita sudah ikut memperpanjang umur kejahatan. Kebaikan yang tidak berani berdiri,
akan kalah—bukan karena lemah, tapi karena memilih tidak hadir.
Memang, tidak semua orang harus menjadi pahlawan. Tidak semua harus berteriak di depan. Tapi setidaknya,
jangan sampai kita menjadi alasan
mengapa yang jahat terus merasa benar.
Sebab kejahatan tidak selalu menang karena kuat, tapi sering kali karena
yang baik terlalu sibuk menyelamatkan diri sendiri.
Dan pada akhirnya, yang paling berbahaya bukan penjahat itu—melainkan ketika kejahatannya mulai dianggap wajar.
By. Dwy sadoellah sidogiri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar