Rabu, 01 April 2026

SANTRI KEMBALI


G


Ada rasa yang selalu sama tiap kali kembali ke pondok: mendadak.


Padahal tanggalnya sudah tahu. Hari kepulangannya sudah jelas. Bahkan mungkin sudah dihitung sejak hari pertama pulang. Tapi tetap saja, ketika waktunya tiba, hati seperti belum siap. Seolah-olah semua terjadi terlalu cepat.


Libur terasa sebentar. Rumah terasa baru saja disentuh. Lalu, tiba-tiba, harus berangkat lagi.


Barangkali hidup juga begitu.


Kita tahu, sejak awal, bahwa mati itu pasti. Tidak ada yang disembunyikan dari kita. Tidak ada yang dirahasiakan. Semua orang tahu—bahkan sebelum benar-benar memahami arti hidup, kita sudah diberi tahu bahwa akhirnya adalah kematian.


Tapi tetap saja, ia selalu terasa mendadak.


Seperti santri yang sudah tahu jadwal kembali, tapi masih merasa “sebentar lagi”. Seperti hati yang menunda-nunda, seolah waktu bisa diajak berunding.


Padahal tidak.


Yang membuatnya terasa tiba-tiba bukan karena kita tidak tahu, tapi karena kita tidak benar-benar merasa. Kita tahu dengan pikiran, tapi tidak menghadirkannya dalam kesadaran sehari-hari.


Maka kita hidup seperti liburan yang terlalu santai. Menunda. Mengulur. Merasa masih panjang.


Sampai akhirnya, panggilan itu datang.

Dan kita baru sadar: ternyata waktu yang kita kira luas, sebenarnya sempit.

Mungkin, yang perlu kita pelajari bukan bagaimana menghindari rasa “mendadak” itu. Tapi bagaimana menjalaninya dengan siap. Seperti santri yang pulang dengan bekal cukup, bukan sekadar menikmati rumah.


Sebab kembali itu pasti.


Dan kali ini, bukan ke pondok. Tapi ke tempat yang tidak bisa ditunda, tidak bisa ditawar.


Tempat di mana yang kita bawa bukan koper, tapi amal yang sempat kita isi—atau yang kita biarkan kosong.

By. Dwy Sadoellah Sidogiri 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALUMNI PONDOK PESANTREN

Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni...