Senin, 26 Mei 2025

DONASI UNTUK KORUPTOR.




Mungkin kita telah menemukan solusi yang tak pernah terpikirkan oleh Plato, apalagi oleh Satpam kompleks. Bahwa cara menghentikan pencuri adalah dengan membayarnya. Bukan menggaji, bukan mengadili, tapi mendonasikan. Bukan dengan menakutinya, tapi dengan memanjakannya.

Anggaplah maling itu seorang profesional. Ia punya target, estimasi bulanan, dan tentu saja KPI: berapa rumah berhasil disatroni, berapa barang berhasil dibawa lari. Maka, kalau kita ingin dia berhenti mencuri, tinggal kita tanya: “Berapa biasanya kamu dapat dalam sebulan?” Lalu kita lipatgandakan. Biar dia merasa dihargai. Biar dia tidak kembali ke jalan gelapnya. Biar dia tahu, masyarakat itu peduli.

Sungguh mulia, bukan?

Lalu siapa tahu, akan muncul program CSR dari warga komplek: Donasi Untuk Sang Maling. Tiap bulan, kita patungan. Yang biasa bayar satpam, kini bisa bayar maling juga. Adil. Karena yang satu menjaga, yang satu kita cegah agar tidak bekerja.

Tentu saja ini bukan ironi. Ini solusi. Kita tidak perlu lagi sistem hukum. Tidak perlu lagi lembaga pemasyarakatan. Cukup ATM dan niat baik.

Toh, ini zaman ketika kejujuran tidak semenarik popularitas. Maka maling pun hanya butuh sedikit kasih sayang—asal lewat rekening.

Masalahnya hanya satu: bagaimana kalau malingnya mulai ngajak temannya? Bagaimana kalau yang jujur malah ikut-ikutan? Bagaimana kalau anak-anak kita mulai berpikir bahwa jadi maling adalah cara tercepat mendapat dana sosial?

Tapi tenang saja. Kita bisa buat lembaga baru: Yayasan Bantuan Calon Maling. Biar mereka tidak perlu mencuri dulu untuk dibayar. Kita panggil saja: pencegahan.

Sungguh, betapa jauh kita telah melangkah. Sampai-sampai, dosa pun bisa dinegosiasikan.

Oleh :dwy sadoellah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALUMNI PONDOK PESANTREN

Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni...