Entah sejak kapan, perempuan diberi label yang tidak mereka minta. Dibilang cerewet, padahal hanya sedang menyampaikan perasaan. Disebut tukang gosip, padahal laki-laki pun kalau sudah duduk di warung kopi bisa membicarakan orang lain lebih rinci dari berita resmi. Dituduh suka pamer, hanya karena merayakan pencapaian kecilnya yang mungkin diperoleh setelah berjibaku antara dapur, kerja, dan luka hati.
Ada semacam bias lama, warisan patriarki yang malas dikoreksi: bahwa perempuan adalah sumber keributan, bukan ketenangan; bahwa suara mereka adalah gangguan, bukan kebenaran yang sedang berani bicara.
Padahal dunia ini tidak akan seteduh sekarang kalau tidak ada perempuan yang menginspirasi dengan diamnya, mengubah dunia dari ruang-ruang tersembunyi. Dari ibu yang menyekolahkan anaknya di tengah kemiskinan. Dari guru perempuan yang membangun karakter bangsa. Dari ulama perempuan yang menulis di balik tirai. Dari istri yang sabar, bukan karena lemah, tapi karena kuat menahan balas.
Lucunya, ketika satu perempuan berbuat salah, seluruh jenisnya dikutuk. Tapi kalau satu laki-laki berbuat salah, kita bilang: "Itu oknum."
Maka cukup sudah warisan tuduhan itu. Perempuan bukan sekadar pengisi ruang tamu atau penyedap panggilan. Mereka punya cerita, pemikiran, dan keberanian. Dan siapa yang masih sibuk mengejek perempuan dengan stereotip murahan, mungkin sedang tak mampu menghadapi kecemerlangan mereka yang sebenarnya.
Oleh : dwy sadoellah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar