Sabtu, 17 Mei 2025

KIAI YANG LUPA KIAI




Ada yang dulu santri. Tidur di lantai, nyuci baju sendiri, antre mandi, dan hormah bahkan ke batuk kiai.

Tapi sekarang sudah jadi pengasuh. Sudah punya pesantren sendiri. Santrinya ratusan. Jadwal ceramahnya padat. Dan perlahan, ia mulai lupa.

Lupa bagaimana dulu ia berdiri sambil menunduk setiap kali kiai lewat. Lupa bagaimana ia tak berani duduk sebelum dipersilakan.

Kini, ketika bertemu kiai tempat ia dulu nyantri, ia bersikap santai. Dengan gaya teman sebaya. Karena, katanya, “karena sekarang sudah sama-sama pengasuh.”

Lucu.

Seakan-akan kealiman dan usia pesantren membuat jarak sosial baru. Seolah menjadi kiai adalah paspor untuk melupakan guru.

Padahal, tak ada level dalam hormat. Tak ada jabatan yang bisa menyetarakan murid dengan gurunya.

Kalau pun sudah punya ribuan santri, tetap saja, di depan kiainya dulu, ia tetap santri.

Sebab ilmu bukan hanya soal isi kepala. Tapi tentang adab. Dan tidak bisa dibeli, tidak bisa diakali.

Sama-sama kiai? Boleh. Tapi tidak akan pernah sama dalam hubungan.

Yang satu memberi cahaya, yang satu pernah gelap dan diajari melihat.

Oleh :dwy sadoellah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALUMNI PONDOK PESANTREN

Ada orang mondok bertahun-tahun tapi setelah boyong hilang seperti sandal sebelah. Tidak pernah kelihatan lagi di pesantren. Undangan alumni...