Kita hidup di zaman emas. Zaman keemasan orang-orang yang miskin isi tapi kaya sensasi. Di mana kejeniusan bukan lagi diukur dari pemikiran yang jernih, tapi dari seberapa banyak jempol dan komentar yang berhasil dikoleksi.
Dan sungguh, mereka yang SDM-nya cekak, justru paling semangat. Semangat tampil. Semangat bicara. Bahkan semangat menertawakan hal yang tak mereka mengerti. Kalau perlu, agama pun diseret ke tengah panggung, dirias seperti badut, agar bisa ikut goyang. Biar lucu. Biar ramai. Biar trending.
Ilmu tidak viral. Maka jangan heran kalau orang makin malas belajar. Yang penting sekarang bisa nge-prank ustadz, ngedit wajah jadi ustadz, atau menirukan gaya khutbah sambil joget TikTok. Itu baru keren. Pahala? Nanti saja. Follower dulu.
Dulu kita percaya, kebodohan itu memalukan. Sekarang? Justru jadi jalan ninja. Karena untuk terkenal hari ini, Anda tidak butuh otak, cukup keberanian menghina yang suci. Tidak perlu wacana, cukup satu konten konyol yang melabrak etika.
Tentu, ini bukan salah mereka. Mereka hanya sedang menggunakan seluruh “kemampuan” terbaik yang mereka punya—yakni ketidakmampuan itu sendiri.
Anehnya, masyarakat kita pun ikut bersorak. Memberi panggung, memberi sorotan, bahkan memberi donasi. Yang cerdas diam di perpustakaan, yang bodoh dibayar buat ceramah di podcast. Pasti Tuhan sedang menguji kita—dengan kelucuan yang sangat serius.
Tapi tenang saja. Ini hanya zaman. Seperti virus, ia punya masa inkubasi dan puncak wabah. Entah nanti kita sembuh, atau justru punah bersama tawa kita sendiri.
Karena seperti kata netizen, yang penting viral dulu, urusan akhlak belakangan.
Oleh : dwy sadoellah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar