Namanya sedang dijual. Persis seperti merek bumbu instan yang setiap musim kampanye diganti bungkusnya, tapi tetap itu-itu juga rasanya. Cuma sekarang lebih mahal, lebih tebal, dan lebih ramai disoraki. Ia membuka pintu lebar-lebar, menebar senyum, menyeringai dalam sorotan kamera yang telah diatur sedemikian rupa agar terlihat “natural”.
Semua orang bilang hebat. Diulang-ulang. Hebat. Hebat. Hebat. Saking seringnya, kita tak lagi peduli hebatnya di mana. Ia dielu-elukan karena tegas, karena cepat tanggap, karena bersih, karena keras. Keras kepala atau keras nasib, kita tak tahu pasti. Yang jelas, para pendukungnya bicara seperti mengaji, satu ayat disuarakan ribuan kali, hingga jadi mantra.
Kita pernah menyaksikan pola yang sama. Dulu, seseorang masuk gorong-gorong. Lugu, katanya. Rakyat biasa, katanya. Sering blusukan, katanya. Semua kagum. Ujungnya? Ya begitu. Tak perlu diulang. Trauma politik di negeri ini bukan luka, tapi semacam iritasi yang selalu muncul menjelang pemilu. Gatal. Pedih. Tapi tetap digaruk juga.
Kini modelnya berubah. Lebih maskulin. Lebih garang. Semua disikat. Lawan dibungkam dengan mimik dingin dan jargon keras. Tapi aneh yang dipuji calon yang disiapkan itu menunjukkan dan memuji-muji orang yang sedang menjadi wakil, yang sedang ramai memenya sekarang. Wakil yang—anehnya—lebih banyak mengundang tawa daripada kagum. Wakil yang tampaknya memang tidak diciptakan untuk berpikir, hanya untuk mendampingi. Seperti sandal jepit: yang penting ada pasangannya.
Dan publik pun menganga. Tidak karena terpesona. Tapi karena sedang dilanda amnesia. Mungkin kita terlalu sering berharap, atau terlalu mudah lupa. Bahwa yang dijual bukanlah nama, tapi impian. Dan impian, seperti biasa, akan dikemas dalam bentuk paling menjual: heroisme murahan, keberanian yang dikoreografikan, dan ketegasan yang dilatih di depan cermin.
Toh akhirnya yang mereka butuhkan bukan pemimpin. Tapi pengikut. Yang setia memuji, meski diam-diam ingin muntah.
Copas Baqir Surahman

Tidak ada komentar:
Posting Komentar